NEUROSCIENCE
Hallooo teman-teman... welcome to my blog ☺ ✌ ❤
Naah teman-temaan, kali ini saya akan membahas tentang Neuroscience.
Apa itu Neuroscience??? Masih asing sekali yaa di pendengaran kita bahkan
saya pun dulu sama sekali tidak tahu apa itu Neuroscience, kalau bukan karena
tugas dari dosen hehe...
Tapi mau tidak mau saya harus pelajari, karena Neuroscience ini merupakan
bagian dari jurusan yang saya pilih, What is thatt ? Psikologi pastinyaa
haha...
Sedikit penjelasan dari saya, jadiii Neuroscience atau bisa disebut
neurobiology itu merupakan salah satu aliran-aliran yang ada dalam ilmu
psikologi dan termasuk kedalam aliran psikologi kontemporer, yang akan membahas
perilaku manusia terkhusus melalui sistem saraf yang ada di dalam otak
manusia. Tokoh dari ilmu Neuroscience ini yaitu Santiago Ramón y Cajal.
Okeeh lumayan berat sepertinya yaa guys wkwk.
Langsung saja, berikut ini pembahasan detail materi tentang Neuroscience.
NEUROSCIENCE berasal
dari kata neuro (sistem saraf) dan science (ilmu).
Jadi neuroscience adalah ilmu yang mempelajari tentang prilaku manusia dan
proses mental dengan memberi perhatian pada sistem
saraf yang ada dalam otak manusia.
Neuroscience sebagai sebuah ilmu yg mempelajari
tentang otak manusia sudah berlangsung sejak zaman yunani dahulu. Akan tetapi
neuroscience berdiri menjadi sebuah disiplin ilmu sejak 70-an tahun yang lalu.
Yakni sejak berdirinya society for neuroscience di Amerika.
Ruang Lingkup Neuroscience
1. Seluler-Molekuler
Lingkup kajian seluler-molekuler ini mempelajari
berbagai macam sel saraf dan bagaimana mereka melakukan fungsi-fungsi spesifik
yang berbeda satu dengan yang lain untuk menghasilkan berbagai perilaku yang
kompleks, seperti emosi, kognisi, dan tindakan. Lebih singkatnya ketiganya
adalah emosi dan rasio yang menjadi satu kesatuan dalam jaringan neural dari
akal sehat. Hal tersebut memunculkan pengetahuan dan tindakan yang
diakibatkannya.
2. Sistem Saraf
Bidang sistem saraf mengkaji sel-sel saraf yang
berfungsi sama dalam sebuah sistem yang kompleks. Misalnya, masalah
penglihatan dikaji dalam sistem visual, masalah gerakan dikaji dalam
sistem kinestetik, masalah pendengaran dikaji dalam sistem auditori, dan
seterusnya.
3. Neuroscience Perilaku
Neuroscience perilaku mengkaji bagaimana berbagai
sistem syaraf bekerja sebagaimana disebutkan di atas bekerja sama untuk
menghasilkan perilaku tertentu. Misalnya, bagaimana saraf visual, saraf
auditori, saraf motorik memproses informasi (materi pelajaran) secara simultan
(meskipun hanya salah satu yang dominan).
4. Neuroscience Sosial (Sosiosains)
Bidang ini mempelajari bagaimana ‘otak
sosial’ manusia berperan dalam membantu manusia membentuk hubungan dengan
orang lain. Kemampuan manusia untuk menjalin hubungan dengan orang merupakan
nature-nya yang tersimpan secara biologis dalam otak. Meskipun bukan merupakan
sistem yang terlokalisasi dan mudah diidentifikasi dengan jelas, otak
sosial memiliki akar yang kuat dalam interaksi.
Sebagai contoh, neuroscience dalam lingkup dunia
pendidkan. Menurut Robert Sylwester, seorang Profesor bidang pendidikan dari
University of Oregon menyatakan bahwa selama berabad-abad guru, orang tua
maupun orang dewasa umumnya membesarkan anak-anak mereka tanpa pengetahuan
sedikitpun tentang neurobiology. Akibatnya, guru dan orang tua membesarkan
(mendidik) anak mereka sesuai dengan cita-cita orang tua atau guru tersebut.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Hurlock yang menyatakan bahwa anak pertama
cenderung meneruskan cita-cita orang tuanya. Misalnya, ketika orang tuanya
bercita-cita menjadi dokter tetapi gagal, ia berharap bahwa anaknyalah yang
harus meneruskan cita-citanya tersebut.
Di sisi lain, banyak anak-anak yang belajar secara
buruk karena hanya untuk menyenangkan guru atau orang tuanya. Hal ini juga
bahwa ketidaktahuan orang tua dan guru terhadap ilmu otak anak (neurobiologi)
telah menyebabkan kesalahan dalam dunia pendidikan. Akibatnya,
potensi alamiah anak tersebut tidak dapat berkembang dengan baik seperti yang
seharusnya.
Pendekatan Neurobiologi, otak manusia dengan 12 milyar sel saraf dan sejumlah penghubung yan hampir tidak terbatas. Pada intinya, kejadian-kejadian
psikologi tergambar dalam kebiasaan yang digerakkan oleh otak dan sistem saraf. Suatu pendekatan terhadap
studi manusia berusaha menghubungkan perilaku dengan hal-hal vang terjadi dalan
tubah, terutama dalam otak dan sistem saraf. Pendeketan ini mencoba mengkhususkan. proses
neurobiclogi yang mendasari perilaku dan kegiatan mental.
Contohnya, seorang ahli psikologi yang sedang mendalami pendekatan
neurobiologi, menaruh perhatian terhadap perubahan yang terjadi dalam sistem saraf karena
adanya proses belajar mengenai hal yang baru. Persepsi dapat dipelajari dengan merekam
kegiatan sel saraf dalam otak pada waktu mata dihadapkan pada berbagai tontonan visual. Berbagai
penemuan mutakhir telah menunjukkan dengan jelas bahwa ada hubungan yang erat antara
kegiatan otak, perilaku, dan pengalaman reaksi emosional, seperti rasa takut dan marah,
dapat dibangkitkan pada binatang dengan cara memberi rangsangan elektrik
yang lemah pada bcberapa bagian tertentu otak bagian dalam.
Tokoh dalam
Aliran Neuroscience
Santiago Ramón
y Cajal ( 1852-1934)
Neurology
dimulai ketika Cajal ilmuwan Spanyol (pemenang Nobel 1906) menemukan
empat dasar teori tentang neuron, yaitu :
- Sel saraf, sebagai unit sinyal
dan blok pembentuk dasar otak disebut neuron. Neuron terdiri dari dendrite, badan
sel dan axon. Dendrit adalah tunas dari badan sel yang menerima sinyal
dari sel lain. Badan sel berupa selaput (membrane) yang
berisi nucleus ( DNA ). Axon yang terbentuk garis panjang dari badan
sel adalah elemen yang menyampaikan informasi dendrite sel lain melalui
terminal axon.
- Terminal axon menyampaikan
informasi ke dendrite sel lain di sinepsi, yaitu celah antara axon
dengan dendrite sel lain. Sinapsis sebelum celah disebut presinaptik,
dan sesudahnya disebut post sinaptik.
- Neuron membentuk
sinapsis dan berkomunikasi dengan sel syaraf tertentu saja.
- Sinyal dalam neuron berjalan
kesatu arah saja, yaitu dari dendrit ke badan sel, axon,
presinaptik, menyeberang celah sinaptik, dan dendrite sel berikutnya.
Selanjutnya ditemukan bahwa neuron terdiri dari neuron (syaraf) sensorik,
yaitu yang menerima rangsangan dari luar, neuron motorik, yang
mengendalikan kegiatan kegiatan sel otot, dan interneuron, yang menjadi
perantara di antara
kedua neuron.
Referensi
Hanafi, Imam. 2016. Neurosains – Spiritualitas dan Pengembangan Potensi Kreatif. An-Nuha.
Wathon,
Aminul. 2016. Neurosains Dalam Pendidikan. Retrieved from
: http://ejournal.kopertais4.or.id .(Diakses
09 September 2018)
B.J, Harcourt. 1983. Introduction to
psychology Eight Edition. New York : Erlangga
Larry R, Squire. 2008. Fundamental Neuroscience Third
Edition . London: Elsevier & AP




terima kasih infonya. Sangat menambah wawasan.
BalasHapusTerima kasih infonyaa
BalasHapusMenambah wawasan. makasih
BalasHapusSangat menarik. terimakasih banyak
BalasHapusMakasih loh infonya, bermanfaat sekali
BalasHapusBermanfaat.. Sangat bagus👍
BalasHapusWawawawawa,, aku seneng banget sama kajian neuroscience.....lop yu author, tengkyu
BalasHapusWaaah terimakasih 😁
HapusCalon Psikolog bahasannya neuroscience ya . :)
BalasHapusCalon psikolog niih 😁
HapusLeh ugha infonya, sangat bermanfaat. Ditunggu postingan selanjutnya ya...
BalasHapusMakasi infonya
BalasHapusTernyata sistem saraf itu benar benar sangat luar biasa yaa :)
BalasHapusIyaaa, luar biasa
HapusBanyak banget ilmunya,makasih yaa..
BalasHapusSangat membantu, terimakasih atas informasinyaa.
BalasHapusnice.....
BalasHapus